Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Bangsawan di Mata Rasulullah

Suatu hari Rasulullah SAW sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Tiba-tiba seorang lelaki berpakaian bagus dan nampak berwibawa melewati mereka. Rasulullah SAW pun kemudian bertanya kepada salah seorang sahabat yang berada di dekatnya mengenai orang yang baru saja lewat tersebut.

Seorang sahabat segera menjawab, ”Wahai Rasulullah ia adalah seorang bangsawan, demi Allah pantas saja jika ia meminang seorang gadis pasti diterima, dan apabila ia membantu memintakan sesuatu untuk orang lain pasti akan dikabulkan.”

Rasulullah SAW hanya diam mendengar jawaban demikian.

Tak lama kemudian ada lagi orang lain yang melewati mereka dengan pakaian sederhana dan dalam tingkah yang biasa-biasa saja. Lalu Rasulullah SAW pun bertanya kembali kepada para sahabat di sekelilingnya. Bagaimanakah pendapat mereka tentang orang yang juga baru saja lewat.

Seorang sahabat menjawab, ”Wahai Rasulullah ia adalah seorang rakyat jelata miskin yang sangat layak bila pinangannya pasti ditolak. Dan jika memintakan bantuan untuk orang lain, pantas pula ditolak. Orang-orang dapat saja dengan mudah tidak mempercayai ucapan-ucapannya.”

Penyebab Umar Menangis di Hadapan Nabi

Umar bin Khattab merekam pengalaman mengharukan ketika berkunjung ke rumah Rasululah SAW. Umar menyaksikan pemimpin agung yang sangat dimuliakan itu sedang terbaring di atas tikar kasar nan rusak.

Kesedihan Umar bertambah ketika tekstur tikar usang itu membekas di punggung Nabi. Di hadapan Rasulullah, "Singa Padang Pasir" ini pun menumpahkan air matanya.

"Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?" tanya Nabi.

"Aku melihat Kisra serta raja-raja lain menikmati tidur di atas ranjang mewah beralaskan sutera. Tetapi di sini Aku melihat Engkau tidur beralaskan tikar semacam ini."

Dengan lembut, Nabi menimpalinya dengan sebuah nasehat.

"Wahai Umar, tidakkah Engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan akhirat sedangkan mereka memilih dunia."

Toleransi Hasan Bashri Bertetangga Nasrani

Kekaguman para sahabat dan murid-muridnya tak menggetarkan pribadi Hasan al-Bashri untuk tetap hidup penuh kesederhanaan. Di rumah susun yang tidak terlalu besar ia tinggal bersama istri tercinta. Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga mengalir tenang dan harmonis meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.

Di dalam kamar Hasan al-Bashri selalu terlihat ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya. Istrinya memang sengaja memasangnya atas permintaan Hasan al-Bashri agar tetesan tak meluber. Hasan al-Bashri rutin mengganti ember itu tiap kali penuh dan sesekali mengelap sisa percikan yang sempat membasahi ubin.

Hasan al-Bashri tak pernah berniat memperbaiki atap itu. “Kita tak boleh mengusik tetangga,” dalihnya.

Jika dirunut, atap kamar Hasan al-Bashri tak lain merupakan ubin kamar mandi seorang Nasrani, tetangganya. Karena ada kerusakan, air kencing dan kotoran merembes ke dalam kamar Sang Imam  tanpa mengikuti saluran yang tersedia.

Cara Rasulullah Hormati Orang Miskin

Rasa cinta mendalam kepada Nabi Muhammad SAW juga dimiliki seorang budak perempuan bernama Barirah. Perempuan miskin ini berharap sekali Rasulullah dapat berkunjung ke gubuknya. Belum ada keberanian untuk mengundang karena di rumah reyot itu memang tak tersedia apa-apa.

Suatu saat Barirah menerima makanan cukup mewah dari salah seorang sahabatnya. Makanan lezat semacam ini belum pernah ia nikmati seumur hidup. Sebelum mencicipi, tiba-tiba batinnya melintaskan sesuatu: Selagi ada, sebaiknya makanan ini disuguhkan untuk orang istimewa yang selama ini ia rindukan, Rasulullah SAW.

Begitu diundang, Rasulullah pun datang bersama para sahabatnya. Sahabat Nabi yang menyaksikan hidangan enak dan mahal itu tiba-tiba berpikir, budak perempuan ini tak mungkin membelinya sendiri.

“Wahai Rasulullah bisa jadi ini makanan zakat atau sedekah. Sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan sedekah. Jadi Engkau jangan memakannya, ya Rasulullah,” kata sahabat.

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya ketika memimpin perang shifin. Padahal sebagai panglima, baju itu sangat dibutuhkannya. Maka alangkah gembirannya Ali beberapa hari kemudian tatkala ada yang memberi tahu bahwa baju itu berada di tangan pedagang beragama Yahudi.

Kepada pedagang itu Ali menegur, ”Baju besi yang kautawarkan itu kepunyaanku. Dan seingatku, tidak pernah kuberikan atau kujual kepada siapa pun.”

Yahudi itu menjawab, ”Tidak baju besi ini milikku sendiri. Aku tak pernah diberi atau membelinya dari siapapun.”

Saling klaim kepemilikkan terjadi berlarut-larut, hingga mereka sepakat membawa perkara itu ke meja hijau. Yang menjabat kedudukan hakim kala itu adalah sahabat Ali yang setia bernama Syuraikh.

Ali mengadu,”Tuan hakim, aku menuntut orang Yahudi ini karena telah menguasai baju besi milikku tanpa sepengetahuanku.”

Syuraikh menoleh ke arah si pedagang Yahudi da bertanya, ”Betulkah tuduhan Ali tadi bahwa baju besi yang berada di tanganmu itu miliknya?”

”Bukan. Baju besi ini kepunyaanku,” sanggah Yahudi berkeras.

Kelahiran Nabi Anugerah Terbesar

Bulan Rabiul awal yang biasa disebut bulan maulid adalah bulan yang tidak pernah terlupakan oleh orang muslim, karena pada bulan ini seorang putra terbaik dari Bani Hasyim Bangsa Arab, sesosok pemuda teladan yang kemudian menjadi pemimpin terbesar dunia telah dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul awal, bertepatan dengan 20 April 571 M.
Muhammad, nama ini selalu dikenal seantero penjuru dunia. Dia telah berhasil merubah  wajah dunia menjadi bermakna, dari gelap menjadi terang, dari kebodohan menjadi berperadaban. Dialah seorang yang telah mengantarkan manusia kepada nilai kemanusiaannya yang tinggi, dialah yang telah mengembalikan manusia kepada keberadaan yang sebenarnya yaitu mulia dan sempurna sebagaimana pertama kali dimaksudkan.
Beberapa peristiwa luar biasa mengiringi kelahiran beliau, diantaranya adalah padamnya api pemujaan di Persi yang seribu tahun sebelumnya tak pernah padam sama sekali, hancurnya pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah yang hendak menghancurkan ka’bah. Mereka hancur ditimpa batu - batu panas  yang dibawa burung-burung ababil yang sengaja dikirim Allah untuk membatalkan niat busuk mereka, serta banyak lagi kejadian luar bisa lainnya. 
Kenyataan ini tentu saja membuat kita merasa berterima kasih dengan kedatangannya. Sebagaimana laiknya kita sebagai umatnya, memperingati hari dan bulan ini sebaik-baiknya dengan melihat dan membaca kembali sejarah perjalanan pribadi dan kepribadian beliau. Allah selalu membimbing, mengarahkan dan mengingatkan orang - orang yang menginginkan kehidupan Ahirat. Dalam konteks ini Allah menguraikan dalam Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21:
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Ekspresi Abu Lahab atas Kelahiran Muhammad SAW

Suatu hari, Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran bayi mungil bernama Muhammad, keponakan barunya. Abu Lahab pun bersuka cita.

Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan.

Sebagai bentuk luapan kegembiraan, ia segera mengundang tetangga-tetangga dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini: Bayi laki-laki yang mungil, lucu, sempurna.

Tidak cukup sampai di situ. Sebagai penanda suka citanya, ia berkata kepada budaknya Tsuwaibah di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, ”Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka dengan ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini.

Demikian dikisahkan dalam kitab Shahih Bukhari. Ini pada hari Senin pada satu tahun yang kemudian dikenal dengan Tahun Gajah.

Kisah Murid Syekh Junaid al-Baghdadi

Syekh Junaid Al-Baghdadi adalah seorang tokoh sufi besar yang ternama. Ia mempunyai seorang murid yang sangat disayanginya yang menyebabkan santri-santri Junaid yang lain iri hati. Jauh di dalam hati, mereka tak dapat menerima mengapa sang guru memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Syekh Junaid menyuruh semua santrinya membeli ayam di pasar untuk kemudian disembelih. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat dimana tak ada yang dapat melihat mereka dengan syarat sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas tersebut.

Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih kecuali murid kesayangan Junaid. Akhirnya ketika matahari tenggelam, sang murid muda itu baru datang dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu telah gagal melaksanakan perintah Syeikh yang sangat mudah.

Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya.

Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana.

Nasihat Sayyidina Umar tentang Budaya Meniru

Madinah merupakan jantung peradaban Islam ketika itu. Umat Islam relatif masih mempertahankan gaya hidup sederhana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun jauh di luar kota Madinah, keadaannya sedikit berbeda. Banyak kota-kota yang telah mengenal kebudayaan imperium Romawi atau Persia memiliki kebiasaan menempatkan para pemimpin mereka di gedung-gedung megah, berpakaian mewah serta kebiasaan-kebiasaan aristokrat lainnya.

Sebagai khalifah Umar merasa khawatir para penguasa akan terjangkiti penyakit individualistik (tak perduli terhadap kondisi umat), materialistik (menumpuk kekayaan pribadi) dan hedonisitik (memburu kesenangan sesaat) sebagaimana para penguasa Persia dan Romawi.

Ia khawatir kebudayaan asing yang negatif tersebut dapat menggerus nilai-nilai bersahaja agama Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah. Untuk itu Umar merasa perlu untuk mengirimkan sepucuk surat kepada wali kota Azerbaijan, Uthbah bin Farqad.

Dalam hikayat Abu Utsman An Nahdi, Umar pernah mengirim surat kepada Uthbah, sang walikota Azerbaijan. Surat tersebut berisi peringatan Umar yang berbunyi

”Wahai Utbah bin Farqad! Jabatan itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ayah dan ibumu. Karena itu kenyangkanlah kaum muslimin di negeri mereka dengan apa yang mengenyangkan di rumahmu, hindari bermewah-mewah, hindari memakai pakaian ahli syirik dan hindarilah memakai sutera.”

Iman dan Permainan

Diceritakan, pada suatu hari, Siti Asiah mengajak Firaun bermain-main atau tebak-tebakan. Tapi Peraturannya, tidak main-main biasa.
Siapa yang kalah harus keluar dengan telanjang sampai pintu kerajaan, begitu peraturan yang disepakati Siti Asiah dan Firaun.
Singkat cerita Siti Asiah menang. Tak lama kemudia, ia menuntut Firaun yang kalah, agar lekas menepati janji yang disepakati.

Namun, Firaun memohon ada ralat perjanjian. Raja yang mengaku sebagai Tuhan terseut ingin mambangun gedung intan sebagai ganti keluar telanjang.

Namun Siti Asiah menolak seraya berkata, "Bilamana Engkau adalah Tuhan, tepatilah janjimu. Sesungguhnya menepati janji adalah syarat ketuhanan."

Dengan amat terpaksa dan penuh kemarahan, Firaun pun membuka seluruh pakaiannya, lalu berjalan keluar.

Para selir kerajaan, dayang-dayang, dan penjaga keraton, semuanya melihat buruknya rupa sang raja. Dan seketika mereka langsung beriman pada Allah, Tuhan yang maha Tunggal.

Sifat Pendendam

Dikisahkan bahwa seseorang laki-laki meminta izin untuk bertemu sahabat Umar bin Khaththab. Setelah orang itu diizinkan, dia berkata, ”Wahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan di antara kami secara adil.”

Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Namun Al-Hurr bin Qais segera mencegah seraya berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman kepada Nabi SAW, ’Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. al-A'raaf, 7 : 199).

Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang itu setelah dibacakan ayat ini. Setelah itu pikirannya terus menerawang terhadap Kitab Allah. Demikian dalam riwayat al-Bukhari, dari Ibnu Abbas RA.

Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin memberikan komentar, rupanya Sayyidina Umar dalam hal ini telah berusaha untuk meneladani keteladanan agung yang telah dicontohkan oleh Rasulullah manakala perang Uhud sedang berkecamuk. 

Qurban Menjadi Saksi

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Perbuatan yang paling dicintai oleh Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan Qurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Sesungguhnya  darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Pada momentum qurban umat Islam diharamkan untuk berpuasa selama empat hari, di mana selama itu pula penyembelihan hewan Qurban dapat dilaksanakan. Waktu penyembelihan dapat dilaksanakan sejak selesai sholat Idul Adha hingga terbenamnya matahari pada akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).

Hewan yang disembelih untuk ber-Qurban tidak boleh dimakan sendiri, melainkan harus dibagi kepada para fakir miskin. Ini adalah pesan penting yang terkandung di dalam firman Allah, ”...dan supaya mereka menyebutkan nama Allah pada hari yang ditentukan, karena rezeki yang Allah telah anugerahkan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan berilah makan orang yang sengsara dan fakir."(QS. al-Hajj, 22 : 28)

Hewan Qurban yang disembelih adalah hewan ternak yang memenuhi persyaratan tertentu (berupa unta, sapi, kerbau atau kambing). Pemilihan hewan ini juga mengacu kepada kebiasaan konsumsi masyarakat

Rasul Ditanya, Siapa Boleh Naik Haji?



Ibn Abbas RA menceritakan bahwa Beliau pernah mendengar Rasulullah SAW dalam suatu khutbahnya bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama muhrimnya.”
Lalu berdirilah seorang laki-laki di antara para jamaah dan berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut dalam berbagai peperangan.”

Mendengar pernyataan semacam ini, Rasulullah SAW memandang lelaki yang sedang berdiri dihadapannya, sementara jamaah lain tetap tenang dalam duduknya masing-masing, “Berangkatlah engkau dan berhajilah bersama istrimu,” sabda Rasul. (HR. Bukhari-Muslim)

Dan suatu ketika Rasulullah SAW bertemu dengan serombongan kafilah di Rauha', kemudian Beliau bertanya kepada para sahabat, “Siapakah rombongan ini?" Namun perwakilan rombongan justru balik bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah engkau?” Maka Rasulullah pun lantas menjawab, “Saya Muhammad Rasulullah.”

Kemudian salah seorang perempuan anggota rombongan tadi mengangkat seorang anak kecil seraya bertanya, “Apakah anak yang ini boleh berhaji?” Maka Beliau bersabda, “Ya boleh, dan untukmu pahalanya.” (HR. Muslim)

Menggapai Surga

Rasulullah SAW bersabda: Gapailah surga dengan kesungguhanmu, dan larilah dari siksa neraka dengan kesungguhanmu. Sesungguhnya surga itu tidak pernah tidur bagi siapapun yang bersungguh-sungguh mencarinya. Neraka juga tidak pernah tidur bagi setiap orang yang ingin lari dari siksa neraka. Dan sesungguhnya surga itu dikelilingi oleh sesuatu yang kita benci, sedangkan neraka dikelilingi oleh segala kenikmatan dan syahwat.

Diceritakan Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT, lalu beliau bertanya: "Wahai Tuhanku, Kau ciptakan makhluk dan juga kenikmatannya. Kau beri mereka rezeki, kau ciptakan kiamat, dan ada surga juga neraka. Kenapa tidak semuanya Kau masukkan ke dalam surga saja?. Kemudian Allah menjawab:

"Wahai Musa, bangkit dan tanamlah padi,kemudian sirami setelah itu panenlah." lalu akhirnya Nabi Musa mulai menanam dan menyirami padi hingga masuk masa panen. Setelah masuk masa panen, Allah SWT bertanya kepada Nabi Musa AS:

"Wahai Musa bagaimana hasil panennya?." Nabi Musa pun menjawab: "Wahai Tuhanku semua padi telah saya panen." lalu Allah SWT kembali bertanya: "Adakah diantara padi-padi yg kau panen itu kau tinggalkan?. Kemudian Nabi Musa menjawab:

Kisah Peletakan Hajar Aswad

Semasa Rasulullah Muhammad SAW belum diangkat sebagai Rasul bagi seluruh alam, Beliau telah terkenal sebagai seorang yang sangat jujur, berlatarbelakang keluarga terhormat dan memiliki kelebihan mampu meredam pertikaian antar suku (kampung). Sehingga beberapa kali Muhammad muda dipercayai memberikan keputusan-keputusan krusial menyangkut kepentingan bersama.

Salah satu contoh paling populer tentang keberhasilan Nabi SAW menyelesaikan sengketa di antara kaumnya sebelum Beliau dimusuhi karena menyebarkan ajaran Islam adalah ketika terjadi peristiwa renovasi Ka’bah.

Kala itu, masyarakat Makkah merenovasi Ka’bah setelah musibah banjir yang menenggelamkan kota, termasuk bangunan Ka’bah. Kondisi ini memanggil mengundang orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian situs peninggalan leluhur mereka, Ibrahim AS yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurut riwayat yang paling shahih, ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad.

Hikayat Mualaf Fresh

Temanku Jeffrey, turunan Cina-Manado. Baru lalu ia  bikin kejutan besar di lingkungan gaulnya: JJ begitu ia disapa, ikhlas memeluk Islam hingga dapat predikat mualaf fresh.  Sebagai muslim keturunan dan teman dekatnya, saya penasaran setengah mati, kok bisa-kok mau? Bukan apa-apa, JJ punya gaya hidup yang jauh dari ‘rasa’ muslim dilihat dari kacamata awam. Ia intelek (bukan berarti muslim nggak intelek lo!),  lihai bergaul dengan gadis-gadis cantik, bertampang bagai bintang Mandarin, langganan dugem, sangat konsumtif, realis sejati dan berdaya rasional minta ampun. Lha…, ada angin apa ujug-ujug bershahadat secara takzim, di mesjid dekat rumahnya sambil berurai air mata… alhamdulillah, saya jadi saksi peristiwa ajaib ini.
Rasa girang dan syukur saya dikalahkan rasa penasaran. Tarohlah ia dari golongan lempeng, hidup tak banyak gejolak ekstravagansa, jenis manusia tertib dan sejenisnya, keinginan jadi mualaf tak mengejutkan. Tapi JJ lain. Ia bergelimang kehidupan gemerlap, musik menghentak, mobil ceper, miras mahal dan selaksa surga dunia lainnya. Kalau saja dianggap tobat, ia tak perlu menjadi ‘bersih’ dengan shock therapy dibentak manusia berperan malaikat Mungkar dan Nangkir di kuburan palsu,  tiang gantungan, pecut sampai jadi berlagak bak mayat dikafani segala. “Maaf, membuat orang tobat dengan cara itu, terus terang saja menggelikan. Orang ingin mencintai Allah kok ditakut-takuti !” katanya sambil terkekeh.  Ia mengaku kagum pada idealisma Rabi’ah Al Adawiyyah, cewek Basra (801 M) soal cinta mistik, penyerahan diri total pada ‘kekasih’ –nya Allah lewat puisi mahabah berisi kecintaan sejati.”Itulah cara terindah mendekatkan diri,” kata sahabat saya ini.

Orang Hebat

Seorang laki-laki paruh baya, suatu ketika lewat di depan sebuah masjid. Kebetulan di dalam masjid, sedang dilangsungkan tabligh akbar. Seorang Ustad muda, nampak berada di atas mimbar. Dengan menggebu-gebu, Ia menyampaikan banyak hal, salah satunya tentang tema karomah.

”Banyak cerita, para kekasih Allah yang lantaran karomahnya, wali tadi bisa berjalan mengambang diatas air, ada juga yang bisa terbang ke awang-awang, nglempit bumi juga bisa, merekalah orang-orang hebat” tandas Ustadz muda.

Hadirin tampak terpaku mendengar setiap keterangan sang Ustadz. Mereka tak beranjak dari tempat duduknya hingga acara tabligh usai.

Dan setelah sekian menit berlalu, acara di masjid itupun ditutup. Sebelum mengucap salam, Ustadz muda berdoa dan hadirin pun mengamini.

Satu persatu hadirin pun mulai meninggalkan masjid. Berbeda dengan lelaki paruh baya yang sejak tadi berada di teras masjid. Ia bermaksud menunggu keluarnnya Ustad muda untuk sekedar mengajak berbicara.

Usai disalami oleh beberapa hadirin, Ustad muda pun bergegas untuk keluar dari masjid untuk pulang. Tapi tanpa dinyana, baru sampai di teras masjid, langkahnya tertahan oleh sapaan salam.

Kerakusan Umat Nabi Isa

Suatu hari Nabi Isa berjalan dengan seorang sahabatnya yang baru ia kenal. Keduanya menelusuri tepi sungai dan membawa tiga kerat roti. Untuk Nabi Isa sekerat roti, sekerat lagi untuk sahabat barunya sedangkan tersisa sekerat yang lain.

Setelah makan Nabi Isa pergi ke sungai untuk minum. Sekembalinya dari sungai, Nabi Isa mendapati roti yang sekerat lagi sudah tidak ada. Ketika beliau bertanya kepada sahabatnya, sang sahabat mengaku tidak tahu. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.

Sesampai di sebuah hutan, keduanya duduk untuk beristirahat. Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil, kemudian beliau berkata: "Jadilah emas dengan izin Allah." Tiba-tiba kerikil itu pun berubah menjadi emas. Kemudian Nabi Isa membagi emas tersebut menjadi tiga bagian. "Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti."

Spontan sahabat itu menjawab, "Akulah yang mengambil roti itu." Nabi Isa kemudian berkata, "Ambillah dua bagian ini untukmu." Dan keduanya pun berpisah.

Dalam perjalanan, sahabat nabi Isa dihadang oleh dua orang perampok yang ingin akan membunuhnya. Sahabat Nabi Isa menawarkan, untuk membagi emas yang dibawanya menjadi tiga asalkan ia tidak dibunuh. Kedua perampok pun setuju.

Bahayanya Sifat Kikir dan Keutamaan Shadaqah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh. Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".

Perempuan itu menjawab: "Wahai Rasulullah, pada suatu malam aku bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri. Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".

"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang yang kikir waktu hidup di dunia. Dan tempat ini adalah tempat golongan orang2 yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku shadaqahkan selama hidupku di dunia. Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab, "Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."

Kasih Sayang Rasulullah pada Fakir Miskin

Salah satu yang menonjol dari Rasulullah SAW adalah sikap beliau yang lemah lembut dan sangat berempati dengan fakir miskin. Sebagai seorang pemimpin, beliau sendiri mengesankan diri sebagai orang miskin. Sehari-hari beliau memakai pakaian katun atau wol yang sederhana, tinggal di rumah yang sederhana dan makan minum dengan hidangan yang sederhana pula.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu yang sedang risau. Setelah berjumpa dengan Rasulullah, tamu tersebut pun berkata: "Wahai utusan Allah, celakalah aku!" Serunya.

Mendengar keluh kesah tamunya tersebut Rasulullah pun kemudian bertanya: "Apakah gerangan yang membuatmu celaka?”

Orang itu kemudian menjawab: "Aku berhubungan (intim) dengan istriku di (di siang hari) bulan Ramadhan".