Khotib Tanpa ‘Bahan’

Problem ketiadaan khotib untuk pelaksanaan shalat Jumat seringkali terjadi di desa-desa terutama yang jauh dari kawasan pesantren atau jauh dari pusat pembelajaran agama.

Untuk mengatasi masalah tersebut, sebagian takmir masjid mencoba menyediakan buku khotbah di dekat mimbar. Tujuannya, manakala khotib yang sudah dijadwal berhalangan hadir, segera dapat dilakukan penggantian khotib.

Tetapi, manusia tetaplah manusia. Kekurangan, kekhilafan selalu melekat pada dirinya.

Akan halnya Agus, seorang mahasiswa keguruan di sebuah PTN di Surabaya, ketika melaksanakan KKN di sebuah desa di Lamongan. Pada awal kedatangan di desa tersebut, Agus diminta oleh tokoh masyarakat setempat agar bersedia menjadi salah satu khotib Jumat di masjid setempat. 


Semula Agus menolak karena ia merasa tidak punya “bahan”. Tetapi, Agus akhirnya bersedia karena sang tokoh masyarakat menjamin bahwa “bahan” yang dibutuhkan Agus sudah tersedia, bahkan –katanya- ada tiga (buku khotbah). Agus pun ditetapkan sebagai salah satu khotib dengan jadwal yang sudah ditetapkan.

Ketika hari jumat telah tiba, Agus tenang-tenang saja berangkat ke masjid, karena memang belum waktunya berkhotbah. Tetapi yang terjadi pada saat dzuhur telah tiba, khotib yang sudah dijadwalkan pada hari itu berhalangan hadir. Beberapa jamaah yang ada di shaf depan pun mencoba mencari pengganti, lalu ditunjuklah Agus.

Dengan keyakinan yang penuh, bahwa “bahan” khotbah telah tersedia di sebelah mimbar Agus pun maju ke mimbar untuk melakukan khotbah. Ia pun memulai membaca muqaddimah khotbah dengan meyakinkan, karena ia sudah hafal di luar kepala, sambil tangan kirinya mencoba mencari-cari sesuatu ke rak buku di sebelah kiri mimbar.

Tangan kiri Agus terus bergerak mencari, disertai suara Agus membaca muqaddimah khotbah yang kian mengecil. Perlahan-lahan wajahnya memerah karena ternyata “bahan” khotbah yang pernah dijanjikan kepada Agus tidak ada di tempat. Spontan Agus menghentikan pembacaan muqaddimah khotbah. Dengan keringat yang bercucuran ia pun turun dari mimbar dan memohon maaf kepada jamaah karena tidak dapat melanjutkan khotbah.

Maka suasana masjid pun menjadi gaduh. Beruntung, setelah sepuluh menit dilakukan pencarian khotib pengganti, berdirilah seseorang yang siap menggantikan Agus. Agus pun lega, dan perlahan-lahan keringat dinginnya pun berangsur sirna. Nah! (Muhammad Nuh)